Senin, 21 April 2014

Humor Dewasa Edisi Khusus Pemilu 2014 Kompilasi 6


Humor Dewasa Edisi Khusus Pemilu 2014 Kompilasi 6 - hanya cerita fiksi belaka jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Kampanye"
Menjelang pemilu, seorang politisi dengan semangat tinggi mendatangi perkampungan suku terasing untuk berkampanye. Di depan warga suku, di ladang ketela yang habis dipanen, politisi pun berpidato berapi-api,

"Saya datang ke sini, karena saya mencintai Saudara-saudara semua!"
"Wuukaaaa!!!" orang-orang berteriak serempak sambil mengepalkan tangan ke udara.
Merasa mendapat dukungan, politisi kita jadi kian membara semangatnya
"Dengan sepenuh hati akan saya perjuangkan kemakmuran untuk Saudara-saudara!"
"Wuukaaaa!!!
" "Perumahan yang lebih baik!"
"Wuukaaaa!!!"
"Makanan yang lebih lezat dan bergizi!"
"Wuukaaaa!!!"
"Pendidikan!"
"Wuukaaaa!!!
"Kesehatan!"
"Wuukaaaa!!!"
"Kehidupan yang lebih bermartabat!
"Wuukaaaa!"
Disuruh Menjelaskan Arti Politik
Seorang murid sekolah dasar mendapat pekerjaan rumah dari gurunya untuk menjelaskan arti kata POLITIK. Karena belum memahaminya, ia kemudian bertanya pada ayahnya.
Sang Ayah yang menginginkan si anak dapat berpikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, "Baiklah nak, ayah akan mencoba menjelaskan denga perumpamaan, misalkan Ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah adalah investor. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya pemerintah. Kami disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita menyebut engkau rakyat. Pembantu, kita masukkan dia ke dalam kelas pekerja, dan adikmu yang masih balita, kita menyebutnya masa depan. Sekarang pikirkan hal itu dan lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau pahami?"
Si anak kemudian pergi ke tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ayahnya. Pada tengah malam, anak itu terbangun karena mendengar adik bayinya menangis. Ia melihat adik bayinya mengompol. Lalu ia menuju kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tidur nyenyak.
Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia pergi ke kamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya.
Akhirnya ia menyerah dan kembali ke tempat tidur, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti POLITIK.
Pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya: 'Politik adalah hal dimana para Investor meniduri kelas Pekerja, sedangkan Pemerintah tertidur lelap, Rakyat diabaikan dan Masa Depan berada dalam kondisi yang menyedihkan."
Ini sungguh kampanye yang gegap-gempita dan sukses, kata politisi dalam hati...
Usai kampanye, politisi meninjau perkampungan diiringkan Kepala Suku. Ia pun tertarik pada bangunan besar tepat di tengah perkampungan itu.
"Bangunan apa itu?" "Kandang kuda". "Kuda?" "Ya. Kami menggunakan kuda untuk berburu., semua kuda warga di tempatkan disitu
" bolehkah saya masuk "?? Kepala suku pun berkata
"Tempat'a kotor nanti sepatu saudara menginjak
" Wuukaaaa "
politisi : "*####* Politisi Berbicara Kepada Petani Seorang pendatang baru di dunia politik sedang berkampanye di suatu daerah pertanian. Di depan sebuah gubuk yang reot, ia mencoba berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang sedang memerah susu.

Pada saat ia hendak mulai memperkenalkan diri, terdengar suara lelaki tua memanggil dari dalam rumah, “Lukas, masuk. Dan siapa teman bicaramu itu?”
“Katanya, dia seorang politisi, pak,” sahut Lukas.
“Kalau begitu, sapi itu juga lebih baik kau bawa masuk!”
Kisah Lucu Pemilu Presiden
Tanggal 9 April di TPS koe sekitar jam 10 an, ada seorang cewek (yang lumayan cuantik, seksi dan menggairahkan), mau ikutan nyoblos.

Kebetulan siang itu cukup sepi (nggak ngantri kayak pemilihan legislatip). Mungkin karena sepi, jadi perhatian para anggota KPPS tertuju ke cewek ini.

Nah, pas sudah selesai nyoblos, di meja anggota KPPS-7, kebetulan di atas mejanya ada tinta dan kopi. Kebetulan lagi yang jaga posisi KPPS-7 ini cowok gondrong (biar gondrong, tapi kan anggota KPPS...he..he..).
Nah, mungkin karena grogi, si cewek tadi bukannya menyelupkan jari manisnya ke tinta, tapi dicelupin ke kopi si gondrong. Terang aja si gondrong senyam senyum.

Mau protes koq nggak pantes (ayu..eee) Nah, waktu si cewek sadar klau salah celup, langsung saja mukanya jadi sedikit merah merona, sambil ngomong...

"Maap pak..eh mas..nggak sengaja..."
Lalu si KPPS-7 langsung memegang jari si cewek untuk dicelupkan ke...tinta (jangan ngeres ya).
Langsung saja suasana yang panas siang itu jadi agak adem panas. Kopinya dibuang? tentu tidak jawab si KPPS-7. Malah rasanya jadi tambah niqmat..he...he...he.. sekian.

LEBIH HEBAT MANA?
Masa kampanye caleg Pemilu 2014 ini para caleg sibuk "turba" ke dapil, daerah pemilihan masing-masing. Selain kampanye juga berkenalan dengan para konstituennya, baik para caleg baru maupun petahana yang mencalonkan diri lagi. Termasuk Sultan Batugandul yang pulang kampung di daerahnya di Sumut. Sultan ini orangnya PD banget karena sering nongol di TV dan seolah-olah sudah merasa jadi "dewa' karena bisa memanggil siapa saja ke DPR. Ia bertemu dengan seorang tokoh agama dan dialog.
Sultan: Bapak sudah mengenal saya? Oh, sudah! Bagaimana saya dibandingkan dengan bupati disini?
Tokoh agama: Ya, bapak lebih hebat! Anggota DPR!! lebih terkenal dari bupati!
Sultan (nyengir): Nah, kalau sama bapak Walikota? Hebat mana?
Tokoh agama: Hebat bapak! Walikota disini belum pernah masuk TV.
Sultan (menyeringai): Kalau begitu dengan gubernur? Kira-kira apa pendapat bapak?
Tokoh agama: Gubernur tidak bisa panggil anggota DPR. Bapak bisa. Ya, terang bapak lebih hebat!.
Sultan (kepalanya langsung melembung); Nah, kalau dengan presiden?
Tokoh agama: Bisa 50:50. Tapi buat saya bapak masih unggul dengan 51.
Sultan (makin jumawa): Nah, kalau dengan nabi?
Tokoh agama: Lebih hebat anggota DPR. Nabi takut sama Tuhan. Anggota DPR tidak. Buktinya banyak yang nggak punya malu. Sumpah bohong atas nama Tuhan.

Related Posts

Humor Dewasa Edisi Khusus Pemilu 2014 Kompilasi 6
4/ 5
Oleh